"Saya sudah menghubungi call center berkali-kali, tapi responsnya sangat lambat dan tidak memuaskan!" tulis Jems dalam suratnya yang kini viral. Ia bahkan menyebutkan beberapa nomor call center yang dihubungi, namun tetap tak ada solusi. Kekecewaan Jems semakin memuncak karena merasa PLN sama sekali tidak menunjukkan itikad baik untuk menyelesaikan masalah pelanggannya.
Kritik Jems tak hanya tertuju pada pelayanan pelanggan, tetapi juga pada manajemen PLN Sulut. Ia secara terang-terangan menyebut GM PLN Suluttenggo, Bapak Atmoko Basuki, hanya pandai berjanji tanpa tindakan nyata. "Hanya ngomong gede, tapi tidak ada perubahan!" tegas Jems dalam suratnya.
Berbekal Undang-Undang No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen, Jems menuntut PLN untuk memperbaiki pelayanan dan memenuhi kewajibannya sebagai penyedia layanan publik. Ia juga menyerukan agar PLN dipimpin oleh sosok yang lebih profesional dan berorientasi pada tindakan, bukan sekadar slogan semata.
Postingan surat terbuka ini langsung banjir komentar dari warganet. Banyak yang mengungkapkan pengalaman serupa, merasakan betapa buruknya pelayanan PLN di Sulut. Surat Jems seakan menjadi representasi keresahan masyarakat luas terhadap kualitas layanan PLN dan mendesak adanya perubahan signifikan dalam manajemen perusahaan listrik negara tersebut.
Kejadian ini diharapkan menjadi titik balik bagi PLN untuk meningkatkan kualitas pelayanan dan lebih responsif terhadap keluhan pelanggan. Publik menantikan aksi nyata PLN sebagai tindak lanjut dari surat terbuka yang telah viral ini.